Penjelajahan Maraton Melintasi Baduy Luar dan Baduy Dalam

Perjalanan Bandung-Jakarta

Pada hari Sabtu, 23 Maret 2019 saya bersama Tim Ekspedisi Sesar Lembang (Lembang Fault) masih melakukan persiapan akhir dan pemusatan tim untuk kegiatan esok harinya. Kemudian pada hari Minggu, 24 Maret 2019 hingga hari Rabu, 27 Maret 2019 saya bersama Tim Ekspedisi Sesar Lembang mulai melakukan perjalanan panjang menapaki dan mencercap pengalaman menelusuri bentang alam geologis sepanjang 22 hingga 29 KM. Bentang alam tersebut memanjang dari wilayah Timur hingga wilayah Barat kawasan Utara Bandung Raya (Cekungan Bandung). Suatu kegiatan yang dapat berjalan baik atas bantuan dan kerja sama dengan Conventry University yang berada di Kota Conventry Inggris, lembaga Resilience Depelopment Initiative (RDR) dengan topik Seismic Cities Network, dan PT. Global Asia Teknologi Solusindo (GATES) tempat dimana saya bekerja. Melalui GATES ekspedisi terasa berjalan secara lebih modern dengan kerjasama yang melibatkan ahli dalam berbagai disiplin ilmu yang diperlukan dan juga alat ukur survei pemetaan dan olah data berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG).

Sementara pada hari Kamis, 28 Maret 2019 saya belum bisa sepenuhnya beristirahat karena masih harus menyelesaikan urusan kendaraan sewaan pada saat ekspedisi yang mengalami kebocoran saluran olinya pada saat melakukan sebagian penjelajahan secara artifisial di suatu medan yang diputuskan perlu untuk dilakukan. Baru kemudian pada malam harinya saya pulang ke rumah orang tua di Kompleks Microwave (asrama HUBDAM dan PUSDIKHUB) Kota Cimahi untuk menikmati sedikit malam beristirahat dan pemulihan tubuh paska kegiatan. Dan pada hari Jum’at, 29 Maret 2019 selepas menunaikan shalat Shubuh saya mulai berkemas kembali untuk melakukan kegiatan penjelajahan menuju kawasan Baduy Dalam (Kampung Cibeo) di Banten. Saya berjanji kepada Maria, bahwa saya akan menemani perjalanannya untuk mencapai tempat tujuan tersebut. Sayangnya, saya tidak bisa memenuhi anjurannya yang sangat masuk akal dan bijaksana untuk bisa berangkat dari Bandung sejak pagi hari agar memiliki waktu cukup banyak untuk beristirahat terlebih dahulu di Jakarta karena masih ada beberapa hal yang belum dipersiapkan khusus untuk perjalanan ini.

Pada pukul 07.00 WIB saya segera pergi menuju rumah Kang Muchlis, teman yang memiliki rumah produksi kecil outdoor equipment dengan nama HANCAWA di daerah Leuwigajah Kota Cimahi. Sembari berbincang ringan dan minum kopi saya kemudian bergegas pulang dengan membawa satu buah jaket untuk saya dan satu buah raincoat untuk Maria. Kebetulan, dua buah jaket saya tinggal di suatu tempat dalam perjalanan Ekspedisi Sesar Lembang bersama beberapa helai pakaian lainnya akibat terasa kelebihan beban dan mengakibatkan pergerakan tubuh yang semakin melambat. Kini, saya memerlukannya lagi untuk melakukan perjalanan ke Baduy. Sementara itu, beberapa perlengkapan lainnya sudah terpenuhi dari hasil belanja kebutuhan outdoor equipment bersama Deni Ramdani (Akay) dari salah-satu toko kecil di Kota Cimahi pada beberapa hari sebelum kegiatan Ekspedisi Sesar Lembang dilaksanakan. Sepas menemui Kang Muchlis, saya kembali pulang pada pukul 08.00 WIB. Dan setelah pamit kepada Ibu dan Adik laki-laki di rumah, saya kemudian bergegas menuju kantor GATES di Jalan Propelat Kecamatan Buahbatu Kota bandung pada pukul 09.00 WIB untuk menemui Gunawan yang telah berjanji untuk menemani saya dalam perjalanan kali ini.

Dari kantor, kami berangkat pada pukul 10.00 WIB setelah menunggui Gunawan yang juga memerlukan persiapan untuk perjalanan kali ini. Dari kantor setelah mengendarai jasa layanan kendaraan online kami akhirnya tiba di perkampungan seberang kampus UNPAD yang berada di Jalan Adipati Ukur Kota Bandung, tempat dimana orang tua Gunawan tinggal. Sementara Gunawan meminjam kedaraan roda empat milik orang tuanya, saya mengunjungi toko outdoor equipment kecil untuk membeli sebuah headlamp dan matras gunung untuk sekedar berjaga-jaga seandainya saja diperlukan dan membeli perbekalan makanan dan minuman seperlunya di sebuah minimarket yang bedekatan dengan toko gunung kecil di sekitar Jalan Adipati Ukur. Setelah Gunawan menyusul, kami kemudian berangkat menuju ke Jakarta pada pukul 11.00 WIB. Dan pada rest area KM 88 Jalan Tol Purbaleunyi, perjalanan kami hentikan untuk melakukan shalat Jum’at, makan siang di rumah makan Padang, mengisi e-tol, dan mengisi bensin yang diperlukan untuk menempuh perjalanan. Perjalanan kemudian baru kami lanjutkan lagi pada pukul 13.30 WIB.

Perjalanan dari Bandung menuju ke Jakarta melalui Jalan Tol Purbaleunyi dan Jalan Tol Cikampek secara umum memiliki jarak sekitar 152,4 KM dengan waktu tempuh normal sebanyak 4 jam perjalanan. Setelah lima kali kami berputar-putar di Jakarta karena berkali-kali melakukan kesalahan dalam melakukan spekulasi pengambilan ruas jalan yang akan dilalalui, maka pada akhirnya kami mampu menemukan rumah Maria yang berada di sekitar Kelurahan Ciganjur Kecamatan Jagakarsa Kota Jakarta Selatan pada pukul 17.00 WIB. Sementara kami sudah tiba di rumahnya, Maria sedang membeli makanan ringan untuk perbekalan dan obat-obatan pribadi di apotek terdekat sepulang kerja dari kantornya di Sekretariat ASEAN. Kami kemudian baru bisa bertemu menjelang pukul 18.00 WIB. Setelah saling bertegur-sapa kami kemudian dipersilahkan masuk untuk segera beristirahat. Membersihkan badan, menunaikan shalat Ashar yang nyaris kepepet waktunya dan kemudian disambung dengan waktu shalat Maghrib hingga waktu shalat Isya tiba, kemudian mencari makan di luar, dan melakukan perbincangan yang hangat sebelum kami semua tertidur pulas.

Sebenarnya hingga sebelum kami benar-benar bertemu, saya masih memiliki ingatan yang samar untuk dapat mengingatnya. Bahwa apakah kami memang sungguh-sungguh berteman atau setidaknya saling mengenal ketika masa-masa kuliah di kampus UPI. Dan memang, kami ternyata saling mengenal namun tidak bisa dikatakan dalam suatu relasi pertemanan yang intensif dan karib. Rasa-rasanya, selain sekedar bertegur sapa seperlunya, kami tidak pernah melakukan perbincangan panjang sewaktu di kampus. Sementara saya mengambil Jurusan Pendidikan Geografi di FPIPS UPI pada tahun 2003, Maria mengambil Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang di FPBS UPI pada tahun 2004. Secara teknis bisa dikatakan, Maria adalah adik angkatan saya. Adalah Rachmat Muhammad Surya Winata (biasa dipanggil Acai) yang merupakan teman dari Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang FPIPS UPI angkatan 2003 yang kemudian menjamin dan merekomendasikan Maria, agar saya dapat menemaninya dalam kunjungan kali ini menuju kawasan masyarakat adat Baduy kali ini.

Sewaktu menempuh perjalanan Bandung-Jakarta, pemikiran sedikit menerawang menuju masa di penghujung kekuasaan kolonial Hindia-Belanda dimana projek pembangunan Kota Bandung yang sedang dipersiapkan untuk menggantikan kedudukan Jakarta sebagai ibukota baru pemerintahan kolonial dihempaskan Mailase atau resesi ekonomi global pada tahun 1930-an dan kemudian menyusul juga berkecamuknya Perang Asia Timur Raya atau Perang Pasifik dalam sekema umum Perang Dunia Kedua (PD II) yang terkesan sebagai suatu perkembangan situasi yang sangat mendadak dan mengejutkan oleh kedatangan balatentara Jepang. Bandung kemudian urung menjadi ibukota baru untuk menggantikan kedudukan Jakarta yang sejak masa itu telah mengalami persoalan dengan banjir yang rutin mengganggu aktifitas pemerintahan dan dampaknya terhadap daya dukung tata kelola kotanya. Seandainya saja Bandung berhasil menjadi ibukota kolonial Hindia-Belanda, pola dasar yang bisa dikembangkan barangkali akan menjadi situasi yang sama yang terjadi di beberapa negara maju pada masa modern ini. Bahwa relasi Bandung dan Jakarta seharusnya akan menjadi relasi semacam New Delhi dan Bombay di India, Ankara dan Istanbul di Turki, Washington DC dan New York di Amerika Serikat.

Dan atau sesungguhnya, dalam perspektif Nusantara yang jauh lebih kuno, wujud relasinya akan seperti Pakuan (Bogor Kuno) dan Sunda Kalpa (Jakarta Kuno) dalam bingkai Pajajaran atau Sunda (Sunda-Galuh Bersatu). Dimana salah-satu akan menjadi pusat adminitrasi dan pemerintahan, sementara yang lainnya akan menjadi pusat perdagangan dan ekonomi pemerintahan yang berwawasan domestik dan juga mancanegara. Jika Pakuan dipimpin langsung oleh Sang Raja, maka Sunda Kalpa diserahkan pengelolaannya secara otonom kepada seorang Syah Bandar yang meskipun demikian masih berada dalam otoritas dan pengawasan penuh Sang Raja. Pada hari ini, tentu saja wacananya bukan hanya soal Bandung, kita bisa memilah ibukota negara dan pusat perkembangan ekonomi, seni, budaya dan pendidikan dimanapun yang kita mau berdasarkan suatu persyaratan, kesiapan, dan daya dukung alam dan sumberdaya manusia yang dimilikinya. Inspirasi sejarah demikian membuktikan bahwa cara berpikir pada masa kuno sesungguhnya kita tidak sedangkal yang kita kira, hanya saja ada aspek keberlanjutan dan pola dasar yang kemudian menjadi terputus dan membuat kita sedkikit tertinggal dalam konstelasi dan kontestasi kematangan secara internasional.

Perjalanan Menuju Terminal Ciboleger

Pada hari Sabtu, 30 Maret 2019 pukul 03.00 WIB Gunawan membangunkan saya yang yang masih tertidur pulas di karpet tengah rumah. Setelah kami semua mandi dan berkemas, kami kemudian mulai melakukan perjalanan pada pukul 04.00 WIB. Hal yang pertama kali akan dilakukan adalah menjemput Kie Inoue yang tinggal di suatu apartemen yang masih berada di kawasan Jakarta Selatan. Kami tiba di sana pada pukul 04.30 WIB, sementara menunggu Kie tiba saya dan Maria membeli tambahan perbekalan di suatu minimarket di seberang keberadaan apartemen tersebut. Kie kemudian tiba menyusul kami untuk menemani belanja, sementara Gunawan telah melakukan shalat Shubuh di dalam kendaraan. Perjalanan kemudian dilakukan hingga memasuki ruas jalan tol dari Jakarta menuju Cikande hingga akhirnya tiba di Rangkasbitung pada pukul 06.30 WIB. Dipinggir jalan sambil melakukan orientasi medan untuk sekedar meyakinkan ruas jalan selanjutnya yang akan diambil benar, kami juga menikmati sarapan bubur ayam dan minum kopi hangat. Sementara saya terlebih dahulu bergegas menuju masjid di seberang jalan untuk buang air kecil dan mengulang shalat Shubuh yang terasa belum yakin pada saat melakukannya di dalam kendaraan.

Setelah melalui Rangkasbitung kami akhirnya tiba juga di terminal Ciboleger pada pukul 09.00 WIB. Bagi saya, perjalanan menuju Baduy ini merupakan perjalanan kedua. Sehingga, setelah kami tiba di daerah Rangkasbitung perjalanan menuju ke arah terminal Ciboleger melalui ruas Jalan Leuwidamar menjadi tidak terlalu asing lagi. Perjalanan untuk yang pertama kalinya saya lakukan bersama teman guru yakni Chairul Anwar sewaktu mengajar di Pondok Pesantren Assaadah di Kecamatan Cikeusal Kabupaten Serang (Banten). Setibanya di Terminal Ciboleger, kami memarkirkan kendaraan roda empat tepat di depan warung nasi milik Kang Eman (Varat Cici) yang sempat saya kenal pada perjalanan menuju ke Cibeo sebelumnya. Di sana kami memastikan kembali informasi yang beredar di media masa, media sosial, dan kabar beberapa teman jika Baduy pada masa ini tengah melaksanakan kegiatan Kawalu. Kawalu adalah masa berpuasa bagi masyarakat Baduy selama tiga bulan lamanya, namun demikian pelaksanaan puasanya itu sendiri masing-masing hanya dilakukan selama satu hari saja pada tiap bulannya. Hanya saja konsekuensinya, sebagaimana juga yang telah kami dapatkan dalam poto selebaran yang resmi yang dikeluarkan oleh Kantor Desa Kanekes adalah saat ini merupakan bulan-bulan dimana kawasan Baduy Dalam tertutup dari kunjungan masyarakat luar, kecuali jika hanya sampai mengunjungi kawasan Baduy Luar saja. Hanya saja, masih ada celah hukum yang masih bisa dikonfrontasikan informasinya; bahwa kabarnya masih ada kekecualian, yakni untuk tamu pemerintahan paling banyak 10 orang, untuk tamu pribadi paling banyak 5 orang, sementara tamu rombongan yang lebih banyak dari itu hanya dipersilahkan hingga wilayah Baduy Luar saja.

Persyaratan pertama sebagai pemerintah tentu saja kami tidak memenuhinya, persyaratan kedua rasanya secara jumlah kami sudah memenuhinya, sementara persyaratan ketiga kami tidak termasuk di dalamnya dan lagi kami telah memiliki keinginan yang bulat agar bisa sampai di kawasan adat Baduy Dalam (Kampung Cibeo), terutama Maria yang memiliki harapan besar bisa menyaksikan situasi pemukiman di Kampung Cibeo sebagaimana yang telah saya ceritakan sebelumnya. Penafsiran pada persyaratan kedua umum beredar bahwa kunjungan tersebut haruslah berupa kunjungan dengan motif memiliki hajat dimana biasanya seseorang akan melakukan konsultasi spiko-spiritual kepada pemuka adat Baduy Dalam. Dan terus terang kami tidak termasuk dalam kategori itu, selain dahaga ingin memahami sesuatu dan keinginan untuk menjalin silaturahmi. Selain persoalan itu, kami juga memiliki persoalan lain jika kami membawa serta Kie, teman yang berasal dari Asia Timur (Jepang) dalam perjalanan kali ini. Rumor dan desas-desus seputar tradisi yang berkembang di daerah Baduy memang sangat penyak beredar di dunia luar. Salah-satunya soal larangan kunjungan ke kawasan Baduy Dalam bagi warga negara asing, yakni Bule (Kaukasoid) dan juga Tionghoa (Mongoloid). Lalu bagaimana dengan Negroid, atau Semit yang masuk Kaukasoid, atau bukankah mayoritas penduduk Indonesia yang Melayu juga masih terhitung dalam klasifikasi Mongoloid. Dan lagi, bukankah bagi penduduk Baduy terutama pada wanitanya, suasana kulit serupa Indo-Cina juga masih tampak terlihat kuat dan kentara menyerupai Tionghoa dan Asia Timur lainnya. Barangkali hukum dan adat juga tidak bersifat hitam-putih, dia memerlukan alasan kenapa suatu praktik secara tradisional dilakukan. Kie dalam hal ini mampu berbahasa Indonesia meskipun sedikit dan lagi warna kulit yang dimiliki Kie bukan suatu yang asing di Indonesia, barangkali bahasa adalah salah-satu kunci dimana seseorang dapat terintegrasi secara cepat ke dalam suatu sistem budaya yang didatanginya. Ketika manusia mampu berbicara dalam frekuensi dan modulasi bahasa yang sama, semua perbedaan nyaris bisa dikatakan buyar. Kunjungan kami dalam niat yang baik dan sebagai kawan yang memandu dalam perjalanan kali ini, saya akan memperjuangkannya semaksimal yang saya bisa untuk mengantarkan kami dalam petualangan yang sesuai dengan apa yang diharapkan. Kami adalah keluarga yang harus menanggung konsekuensi dari perjalanan bersama-sama, tanpa mengurangi rasa hormat dan kecintaan pada adat yang juga dibangun oleh saudara kami.

Setelah bertegur sapa dan melakukan perbincangan santai sambil ngopi dengan kang Eman, kami kemudian segera pamit dan menitipkan kendaraan kepadanya. Namun demikian, beliau dengan baik hati mengantarkan kami pada Kang Sadiman kenalan Tedi; teman kami di Bandung yang telah menjalin pertemanan cukup lama dan intensif hingga saling mengakui sebagai saudara. Sadiman adalah putra Baduy Luar dari kampung Kadu keter III yang kemudian memutuskan untuk memeluk agama Islam sehingga konsekuensinya keluar dari kawasan adat Baduy Luar. Kita tidak bisa membayangkan bahwa itu suatu pembuangan yang menyakitkan dan mencerabut dari aspek sosio-kultural induknya, tidak Baduy memiliki fleksibilitas dan kedewasaan yang baik. Orang yang akan keluar dari kawasan ulayat diberikan restu dan upacara adat secara resmi dan meskipun kemudian harus tinggal di kawasan luar Baduy, secara kekeluargaan masih diakui dan terhubung dengan induk dan kerabatnya secara baik tanpa sentimen-sentimen yang terkesan negatif. Dan beruntungnya, setelah merantau untk beberapa lama dan kemudian menemukan isteri dari Jawa Timur, Kang Sadiman pada akhirnya tinggal hanya berjarak dua langkah saja dari ujung perbatasan Baduy Luar dengan Kampung Ciboleger dengan pemisahnya berupa jalan kecil paving block. Di sana bersama rekan-rekannya, Kang Sadiman mengelola suatu kegiatan konveksi dengan perangkat modern. Setelah saling mengenalkan diri, kami disambut dengan baik dihalaman rumahnya; sementara Kang Eman setelah menyerah-terimakan kami undur diri kembali ke warung tempat isterinya membuka usaha di depan Terminal Ciboleger.

Karena kesibukannya, Kang Sadiman sudah jarang melakukan pemanduan bagi tamu-tamu dan kenalan-kenalannya. Sehingga beliau mengubungi Robi keponakannya yang tinggal di Kampung Kaduketer III untuk melayani hasrat kami bertualang. Pemanduan bagi masyarakat adat Baduy bukanlah profesi dalam arti profesionalisme kerja dengan sistem pembayaran honorarium yang telah disepakati dan ditetapkan sebelumnya. Bagi mereka, menerima tamu dan menampungnya adalah suatu tanggung jawab adat dan kemanusiaan demikian juga mengantarkan kenalannya ke tempat-tempat yang diinginkannya. Adapun pemberian akan diterimanya dengan senang hati, tanpa diharap-harapkan. Adalah suatu kewajiban juga bagi kami untuk memberikan sedikit rezeki kepada mereka baik berupa uang maupun sisa-sisa perbekalan yang telah sengaja diperhitungkan untuk siapa saja orang yang akan menampung dan melayani kami di tempat pengembaraan Baduy. Dengan suasana yang tulus, Kang Sadiman dan Robi bersiap mengantarkan kami hingga ujung kawasan Baduy Luar. Mereka tidak melarang kami untuk mengunjungi kawasan Baduy Dalam melainkan khawatir jika kondisi kami tidak akan kuat melakukannya. Adapun dengan adanya kondisi Kawalu yang kemudian akan disusul dengan kegiatan Seba, Robi memberikan harapan dapat saja dilakukan hanya saja hanya untuk sekedar melintasinya saja tanpa menginap di Kampung Cibeo, salah-satu kampung adat selain Kampung Cikeusik dan Kampung Cikertawana.

Pada hari itu, kami memutuskan memulai perjalanan kaki bersama Robi pada pukul 10.00 WIB. Semua perlengkapan kami bawa karena kami belum memiliki kepastian akan dimana kami menginap dengan kondisi dan situasi baduy tengah menghadapi Kawalu yang masih akan berjalan hingga satu bulan kedepan. Perjalanan dimulai dengan melakukan registrasi ke Kantor Desa Kanekes yang berada di kawasan Baduy Luar. Kepala Desa Kanekes pada saat ini dipimpin oleh Jaro Saija, yang menggantikan Jaro sebelumnya yang baru beberapa waktu meninggal. Pada kunjungan kali ini, terdapat dua tokoh adat Baduy Luar yang meninggal. Selama tujuh hari setelah upacara penguburan mayat, mereka berkumpul-kumpul di rumah keluarga yang mendapatkan kedukaan. Para perempuan dari berbagai kampung-kampung menumbuk padi dan para pria bercengkerama di rumah keluarga duka sambil menemani dan berbincang-bincang dengan penuh keakraban. Setelah melakukan registrasi melalui Sarikan (57) yang pada saat itu tengah tugas piket kami pun bergerak melakukan perjalanan menelusuri perkampungan demi perkampungan Baduy. Menurut keterangan Sarikan, penduduk Desa Kanekes tempat dimana seluruh komunitas Baduy secara administrasi berada berjumlah 12.000 orang. Jumlah kampung keseluruhannya adalah 67 buah, dimana didalamnya terdapat 3 buah kampung dengan status sebagai kampung adat Baduy Dalam. Dalam bahasa Sunda, kawasan adat dalam atau inti tersebut dikenal dengan istilah Tangtu (Inner Baduy) dan kawasan adat luar atau pendamping disebut dengan istilah Panamping (Outer Baduy). Setiap kampung di kawasan Baduy Luar memiliki semacam orang tua atau orang yang dituakan sebagai tokoh yang dihormati masyarakat adat. Dalam istilah bahasa Sunda disebut dengan nama Dangka (Senator) atau kokolot lembur. Sementara Kepala Desa yang dalam bahasa Sunda biasa disebut Jaro adalah tokoh yang dipilih dari masyarakat adat Baduy Luar namun demikian harus tunduk kepada Jaro Tangtu (Jaro Baduy Dalam) dimana Jaro Tangtu sendiri harus tunduk pada Puun. Puun adalah nama gelaran bagi pimpinan kampung Baduy Dalam, baik dari Kampung Cibeo, Kampung Cikeusik, maupun Kampung Cikertawana. Mereka ibarat suatu dewan yang secara kolektif kolegial memiliki kesetaraan dalam memikirkan dan mengurusi persoalan kawasan adat Baduy dan masyarakat penghuninya. Dalam bahasa Sunda konsep demikian disebut Tritangtu (Tiga Kepemimpinan), suatu gagasan yang bisa dikomparasikan dengan Triumvirat pada tradisi Romawi Kuno dan juga Triaspolitika pada konsepsi tata negara modern. Atau bisa jadi influence Hindu (Sanata Darma) soal Trimurti yang bersifat teologis mampu dibaca dan diadaptasi ke dalam bentuk yang lebih pragmatis, yakni tata kelola pemerintahan. Dalam filsafat ketatanegaraan Sunda lainnya, Tritangtu juga berarti sistem kolektif kolegial antara Raja, Ratu, dan Pandita.

Menjelajahi Baduy Luar dan Baduy Dalam

Jalan-jalan tertata dengan baik dengan hamparan batu pipih dengan lebar sekitar 2 meter, ibarat paving block modern. Rumah-rumah dengan ukuran relatif sama sekitar 12 meter kali 6 meter berderet rapi ibararat kompleks perumahan modern. Bangunan dibangun dengan rangka berbahan bahan kayu dan dinding dengan anyaman bambu. Atap segitiganya ditutup dengan daun kiray yang pohonnya menyerupai keluarga palem-paleman atau pohon sagu. Engsel-engsel kayu dan bambu diikat dengan tali ijuk berwarna hitam yang diambil dari pohon aren atau kawung. Pada rumah panggungnya, kaki-kaki kayu berdiri di atas penyangga batu andesit yang dibuat tidak terlalu tinggi. Dan pada kompleks khusus yang berdekatan dengan pemukiman, bangunan-bangunan penyimpanan gabah padi berderet dengan rapih. Bangunan kayu bernama leuit yang berfungsi sebagai lumbung padi tersebut berukuran jauh lebih kecil dengan proporsi ketinggian yang mencolok, atapnya juga berbentuk segi tiga dengan hamparan ijuk berwarna hitam dengan kaki-kaki kayu yang tinggi dengan disangga hamparan batu pipih. Gagasan soal penanggulangan masa-masa sulit atau paceklik dalam perkembangan dunia pertanian padi tadah hujan sudah dikuasai dengan matang sejak masa leluhurnya.

Jalan terus memanjang menuju perbukitan yang disulap sebagai lahan pemukiman, di kanan dan kiri jalan tersebut terdapat jalan-jalan berbatu yang sama pipih dan rapih untuk memasuki kompleks-kompleks pemukiman lainnya. Jalan terus menurun dan menanjak, mengelok ke kanan dan kekiri mengikuti kontur alam perbukitan Kendeng yang berlapis-lapis bergunung lembah yang curam. Kampung berganti kampung, nama-nama kampung berganti-ganti. Di bagian-bagian ruas jalan, lereng disengked dengan undakan batuan yang rapih seperti dinding yang berbatu. Beberapa komples perumahan dilengkapi halam luas untuk bermain anak-anak. Kampung berselang kawasan kebun-kebun dan hutan-hutan semi produksi, hingga bertemu aliran sungai terbesar di Provinsi Banten, Ci Ujung. Salah-satu mata air utamanya membual dari leuweung larangan (hutan lindung) yang berada di pedalaman Baduy Dalam dan mengalir relatif arah Selatan ke Utara hingga tiba di Laut Jawa. Perbatasan kawasan Baduy Luar dan Baduy Dalam juga dipisahkan oleh penciri alam sungai tersebut. Pada umumnya, pengunjung akan menjelajahi hingga Kampung Gajebo dimana segmen sungai Ci Ujung terlihat mengalir panjang dengan konstruksi jembatan dari yang tampak eksotis. Di sana merkan akan beristirahat untuk kemudian kembali. Di sudut lain jalur menuju kawasan Baduy Dalam, terdapat jembatan yang jauh lebih alami dan spektakuler yang terbuat dari akar dua buah pohon yang dianyam dari dua sembrang lebar sungai, buah kreatifitas dan kesabaran. Kami tidak melalui rute tersebut pada kesempatan kali ini. Dari Kampung Gajebo ujung dari perkampungan Baduy Luar masih lumayan jauh, kami terus menelusurinya hingga habis, hingga kami menemukan aliran sungai yang sama dan sebuah rumah peristirahatan tertutup yang kosong. Saya dan Gunawan mengambil air wudhu dan melakukan shalat pada hamparan batu andesit berukuran cukup besar di pinggir sungai Ci Ujung setelah meniti jembatan bambu yang menghubungkan wilayah Baduy Luar dan Baduy Dalam. Hari mulai sore, setelah kami menjama kosor shalat kami melakukan sedikit diskusi. Apakah kami akan berhenti menjelajahi sampai di sini ataukah akan membulatkan tekad untuk mengunjungi Baduy Dalam di Kampung Cibeo. Tubuh mulai kecapean, dan kaki kiri saya yang sempat bermasalah dalam Ekspedisi Sesar Lembang sebelumnya mulai kumat. Stamina masih bisa dibilang kuat, tapi kapasitas bawaan yang cukup banyak memicu rasa nyeri kaki yang mulai menjadi.

Keputusan kami akan terus mengunjungi Cibeo, Maria dan Kie tampak antusias sekali. Tidak tega rasanya jika harus memupus harapannya untuk menggapai perkampungan Baduy Dalam tersebut. Mereka sungguh-sungguh mempersiapkan segala sesuatunya untuk melakukan perjalanan yang sudah terjadwal jauh-jauh hari sebelumnya. Hanya saja saya memberikan opsi untuk menginap terlebih dahulu di ujung perkampungan Baduy Luar, kami harus mundur kembali karena selepas sungai meskipun dekat kita akan menghadapi rangkaian tajam jalur setapak tanah yang terasa tanpa akhir apalagi jika dalam kondisi kelelahan. Dan malam pun akan segera datang menyergap perjalanan. Kami semua sepakat, hanya saja menurut Robi; esok hari adalah hari Minggu, hari dimana pemuka adat dari berbagai kampung akan datang melakukan permusyawaratan di Cibeo sehingga kita tidak akan bisa bahkan untuk sekedar masuk dan melintasinya. Robi memberikan masukan, jika memang ingin hanya sekaranglah kesempatannya. Bahwa kita harus meneruskan perjalanan sekarang juga. Akhirnya, semuanya sepakat akan menuntaskan perjalanan dengan segala konsekuensinya dengan jalur pulang menuju Baduy Luar tidak dengan jalan yang sama. Robi sendiri tampak tenang, saya sedikit berbincang apakah ini akan menimbulkan persoalan. Menurut Robi, untuk sekedar melintasinya tidak masalah dan dia akan mempersiapkan konfirmasi secara adat sepulangnya perjalanan kepada tokoh-tokoh yang segala nasihat dan pendapatnya menjadi semacam hukum dan peraturan.

Benar sekali, perjalanan makin berat dan menanjak dan rintik-rintik hujan mulai berubah menjadi hujan. Kami semua dibuatkan tongkat dari kayu pohon disekitar lintasan oleh Robi. Saya sendiri mulai membebat otot kaki dengan kain syal pecinta alam untuk mengurangi rasa nyeri. Saya sengaja tidak membawa pembebat dari apotik, saya kira saya merasa sudah sangat sehat setelah sempat diurut pada kegiatan sebelumnya. Namun demikian kami berhasil memuncaki punggungan tersebut hingga menemukan rumah pembuka. Di sana kami minum, ngemil, meregangkan otot-otot, menggunakan raincoat karena hujan mulai semakin besar, mengeluarkan headlamp karena beberapa saat lagi hari akan menjadi gelap, sementara Robi ternyata tertidur dan kelelahan juga di bangku kayu rumah yang kami temui. Karena untuk mengefektifkan waktu, saya membangunkan Robi perlahan-lahan untuk mengajaknya kembali melakukan perjalanan. Lalu kamipun berjalan melintasi jalan tanah yang menjadi empuk dan lengket. Perkebunan, hutan, leuit, jalan menurun, menanjak, meliuk, beberapa rumah pembuka kembali, beberapa penduduk Baduy Dalam yang sedang beraktifitas di luar. Mereka dengan keramahan yang tidak berlebihan menyapa kami dan Robi. Kami pada akhirnya sampai di kampung utama Cibeo, dimana tepat akan melintasi jembatan kayu terakhir saya berpapasan dengan Ayah Kodo yang sempat saya kenal pada perjalanan menuju Baduy sebelumnya. Setelah bertegur sapa, Ayah Kodo malah mempersilahkan kami untuk menginap di rumahnya. Kami mengucapkan rasa terimakasih dan penghargaan yang banyak, tapi dengan situasi Kawalu dan melindungi semua pihak dengan adanya Kie kami memutuskan untuk sekedar melintasi perkampungannya saja. Saya kira Kie juga sudah sangan bahagia dengan menjadi salah-satu orang Asia Timur yang secara syah dapat menyaksikan dan melintasinya. Suatu hari, jika setidaknya bahasa Indonesianya semakin fasih; suasana kekeluargaan dan penyambutan akan semakin karib lagi.

Kami terus melintas, melalui rumah Ayah Kodo, Aldi dan Sarmin kakak beradik yang sempat memandu dan mempersilahkan kami menginap di dalam rumahnya. Sayangnya, Aldi dan Sarmin sedang tidak tampak di luar rumah kali itu. Kami terus berjalan hingga hampir di ujung pemukiman kami dipersilahkan istirahat dan mencicipi air kopi oleh seorang pria Baduy Dalam yang belum kaki kenal. Kami beristirahat sejenak, namun tidak minum kopi. Kami memilih air bening saja untuk menysuaikan kondisi perjalanan yang masih panjang akan dilalui. Kamipun pamit, menghabiskan kampung Cibeo menuju jembatan sungai Ci Parahyang yang akan membawa kami ke Baduy Luar lewat jalur yang lainnya lagi. Hari mulai gelap, headlamp Gunawan sudah menyala, senter Kie sudah menyala, lampu senter dari handphone Robi sudah menyala, dan saya menyerahkan headlamp saya yang sudah menyala untuk Maria. Kami mulai berjalan menapaki hutan di jalan setapak yang menanjak secara moving together. Sesekali saya membuka jalur, atau Robi, dan malah Kie yang semakin antusias malah berlaku sebagai leader yang membuka perjalanan meskipun dalam radius pengawasan saya. Perjalanan tim berjalan baik dan saling menutupi, Robi sesekali menjadi sweeper dalam perjalanan yang tidak pernah dilakukannya beserta tamu hingga selarut malam seperti skema perjalanan kali ini. Ibarat maraton, kami akan menuntaskannya hingga kembali ke Baduy Luar malam ini juga.

Saya bertanya kepada robi apakah jalur kita akan melintasi sungai sebagaimana perjalanan saya sebelumnya, saya berpikir jalur perairan pada malam hari sangat berbahaya. Selain gelap, licin, dingin karena akan basah, juga hewan-hewan berbahaya mungkin saja waktunya turun ke lembah-lembah. Kemudian Robi mengatakan, bahwa ada jalur lainnya yang tidak memerlurkan penelusuran sungai, meskipun perjalanan akan menjadi sedikit lebih panjang. Saya pun menyetujuinya, tanjakan demi tanjakan terus kami lalui, beberapa ceceran rumah terakhir mulai habis kami lalui. Kami menaiki punggungan dan lembah berkali-kali, sesekali jalanan yang basah membuat keseimbangn tubuh terganggu. Setelah melalui itu, kami tiba di suatu perkampungan Baduy Luar pada topografi yang sangat curam namun padat memenuhi undakan tempat dimana kami melintasi tanjakan berbatu rapih yang terasa tiada ujung hingga kemudian akan mengantarkan kami menuju lintasan danau Dangdang tanpa melalui perairan. Melewati Dangdang hati menjadi terasa tenang, secara psikologis wilayah ini sudah pernah dilalui dan lagi tidak akan terlalu lama lagi perkampungan Baduy luar yang utama akan segera kami lalui. Namun demikian, perjuangan tidak semudah itu rute jalan setapak masih harus kami lalui melintasi hutan dan perkebunan yang cukup panjang sampai akhirnya kami menemukan kompleks leuit dan pemukian utama Baduy Luar. Jika kami lanjutkan perjalanan akan langsung mengarah menuju Terminal Ciboleger, maka karena tujuan kami kali ini untuk segera mengambil istirahat di rumah Robi kami masih harus melintasi hutan dan perkebunan menuju Kampung kaduketu III. Psikologi yang sudah bahagia sedikit mengkerit kembali karena lintasan ternyata tidak sedekat yang kami kira meskipun pada akhirnya kami sampai juga.

Gunawan, Kie, dan Maria langsung menghempaskan tumbuhnya ke bale-bale rumah sampai tertidur pulas sementara Robi langsung menuju pemandian untuk membersihkan diri. Selang berapa lama saya memutuskan untuk mandi juga agar mampu memulihkan tubuh dengan cukup baik. Gunawan hanya memutuskan untuk mencuci muka dan mengambil air wudhu untuk menshalat jama kosor Maghrib dan Isya begitupun dengan saya, Maria memutuskan hanya untuk buang air kecil dan bersih-bersih seperlunya. Sementara Kie memutuskan untuk tidak melakukan kontak dengan air sama sekali hingga esok hari tiba saja. Tidak masalah, yang penting semuanya harus salin dengan pakaian yang bersih dan kering untuk kemudian menyantap hidangan alakadarnya dari Robi meskipun hanya untuk satu dua suap saja. Setelah itu, semuanya boleh tidur dengan pulas. Tidak terasa, kami telah melakukan perjalanan kaki melintasi Baduy Luar dan Baduy Dalam sejak pukul 10.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB, artinya kami berjalan secara maraton meski dengan kecepatan lambat sebanyak 12 jam. Hari mulai larut dan kami semua tertidur pulas. Keesokan harinya setelah melakukan aktifitas bersih-bersih, packing, sarapan, melihat kegiatan menumbuk padi kamipun berpamitan kepada keluarga Robi, keluarga Kang Sadiman, dan keluarga Kang Eman dengan harapan semoga kami masih bisa diberikan kesempatan untuk berkunjung di lain waktu bersama sudut-sudut Baduy lainnya yang belum sama sekali kami jelajahi.

Kebersahajaan Bandung Masa Silam

Saya lahir pada tahun 1982 di perkampungan belakang terminal Ledeng dan dibesarkan di rumah nenek dan kakek dari ibu di daerah Gegerkalong Hilir, kampung Blok Arjuna. Nenek dari Ibu bukan asli Gegerkalong, beliau putra dari Ayahnya yang berasal dari Garut dan Ibunya yang berasal dari Cianjur yang kemudian berpindah ke Bandung di sekitar Cisitu Dago. Jadi Kakek dari Ibulah yang merupakan pribumi Gegerkalong Hilir, sementara kedua pasangan buyut dari Kakek saya berasal dari Gegerkalong Tonggoh. Saya mulai masuk SD KPAD pada sekitar tahun 1989, dan masa kecil saya dihabiskan dengan kebahagiaan seorang anak yang bermain bersama teman-teman dan alamnya. Belajar berenang di sungai Ci Beureum, mengambil buah huni dan loa di pinggiran sungai, melintasi lahan persawahan dan kebun-kebun ke arah perbukitan yang lumayan terjal, bermain perang-perangan dengan peluru pentil jambu air, membuat katapel dengan peluru hanjeli, mengambil kayu tamiang untuk dibuat sumpit dengan peluru kacang hijau, mengambil batang kopi yang lurus atau batang pohon waregu untuk mengadu kekuatan tongkat dengan teman-teman, dan sesekali menjelajah lebih jauh menyusuri sungai Ci Beureum dari kampung Blok Arjuna hingga ke Curug Bata ataupun Curug Aleh. Bersama Ayah juga sesekali mengunjungi festival adu domba di lapangan rindang yang dikelilingi pohon bambu di beberapa tempat seperti Jerokaso, Ciwaruga, dan Cinampeu ataupun melintasi lahan hutan dan persawahan di Lebak Cigugur.

Dalam ingatan yang masih cukup jelas, sebelum masuk SD kami sekeluarga pernah tinggal di rumah kerabat yang masing merupakan bangunan kayu dengan bilik bambu sebagai dindingnya. Atapnya sudah genting dan lantainya berupa palupuh, saya biasa menabung uang logam ke dalamnya. Rumah pangghung itu disangga kaki-kaki kayu yang cukup panjang dan batuan beku yang dibentuk cukup tinggi. Rumah itu punya Nini Mamah, tapi di kampung Blok Arjuna pada masa itu rumah panggung bukan hanya milik Nini Mamah. Masih ada rumah panggung milik Ma Imik, Ma Asih, dan seterusnya. Jika senja tiba, kelelawar keluar dari lubang bambu penyangga suhunan rumah beterbangan. Listrik pada masa itu belum semuanya masuk ke rumah-rumah, dan tidak semua rumah yang sudah permanen memiliki televisi. Budaya batuan andesit yang ditata untuk merapihkan jalan setapak dan perkampungan masih terlihat jelas, karena kampung tersebut juga berkembang dari adanya kegiatan pangalaan batu (mengambil batu). Ikan-ikan kecil masih berenang ke sana ke mari di selokan-selokan perkampungan. Dan areal pekuburan dicirikan dengan kerindangan pepohonan kayu dan bebungaan denga padung-padung nisan batuan beku yang tinggi dan runcing tanpa penyemen dan penanda nama. Begitulah suasana yang sempat generasi kampung kami nikmati, suasana pinggiran Bandung transisi tahun 1990-an menuju tahun 2000-an. Seiring waktu modernitas dan pemerataan makin cepat, terlebih lagi pusat-pusat kegiatan cukup dekat memberikan pengaruh perubahan yang kentara. Ada kampus POLBAN (asalnya Politeknik ITB), kampus UPI, Ponpes Darut Tauhid, dan kompleks KPAD.

Dengan melihat suasana dan pola perkampungan Gegerkalong masa lalu, menjadi bekal dalam memahami kondisi adat yang dimiliki masyarakat Baduy. Bahwa pada umumnya, pemukiman di tatar Sunda kurang lebih pernah mengalami dan melalui fase demikian. Hanya saja Baduy dalam hal ini, mengganjal tingkat pencapaian kemajuan peradabannya hanya sampai di situ saja. Adat memandang, dalam tafsir saya bahwa perkembangan selanjutnya yang melampai puncak tradisi tersebut menjadi suatu hal yang artifisial dan degradasi. Rumah kayu dan bilik bambu bukan perlambang kemiskinan, pada mulanya. Melainkan suatu kemakmuran dan harmonisasi dengan alam dan ketersediaan daya dukungnya. Sebelum kemudian standarisasi global dan internasional menjadi parameter yang dibaca secara kurang proporsional, logika mulai terjungkir balik bahwa rumah kayu adalah suatu simbol kemiskinan di tengah daya dukung alam dan living space atau lebensraum yang semakin  habis dan terseret lahan-lahan perkotaan. Mengunjungi Baduy adalah bukan semata soal polemik sistem keyakinan, rumor-rumor, desas-desus, dan spekulasi ilmiah dan historis semata. Baduy menunggu siapa saja orang yang mampu melihat dan memandang dengan jernih soal bagaimana masa lalu berjalan dengan baik dan harmoni. Baduy tidak membebankan kewajiban kepada semua pihak untuk mau berlaku sebagai dirinya, tapi Baduy juga akan merasa bahagia dan terhormat jika pola dasar penjangaan terhadap alam yang teguh dipegang dirinya dijadikan sandaran berkelanjutan dalam upaya pengembangan sistem budaya dan peradaban yang tidak tercerabut dari asal-usul dirinya sendiri.

***

Sementara Kie dan Maria pulang ke Jakarta untuk melakukan aktifitas rutin lainnya, saya dan Gunawan memacu kendaraan kembali menuju Bandung. Kami tida di kantor GATES pada Senin, 01 April 2019 pukul 12.00 WIB. Kelelahan, tapi dipenuhi rasa puas di dalam dada; bahwa kami telah melakukan perjalana belajar yang tidak sia-sia. (Selasa, 02 April 2019; 13.46 WIB – Margahayu)

 

Advertisements

Istilah Baduy dan Asal-Usul Penamaannya

Melalui penelusuran data dapat diketahui bahwa penyebutan istilah Baduy secara tertulis telah dimulai oleh para peneliti berkebangsaan Belanda (Hindia-Belanda) melalui dokumen-dokumen yang telah dihasilkannya. Adapun para peneliti Belanda tersebut antara lain, A.A. Pennings dengan judul karya tulisnya“De Badoewi’s in Verband met enkele Oudhen in de Residentie Bantam” (TGB, XLV, 1902); J. Jacobs dan J.J. Meijer dengan judul karya tulisnya“De Badoej’s” (‘s-Grahenhage: Martinus Nijhoff, 1891); Pleyte dengan judul karya tulisnya“Badoejsche Geesteskinderen” (TBG, 54, afl. 3-4, 1912); dan W.R. Van Hoevell dengan judul karya tulisnya“Bijdragen tot de Kennis der Badoeinen in het Zuiden der Residentie Bantam” (TNI, 7, IV, 1845).

Dengan demikian dapat terlihat bahwa para peneliti berkebangsaan Belanda telah menggunakan istilah Badoewi (A.A. Pennings), Badoej (J. Jacobs dan J.J. Meijer) dan (Pleyte), dan Badoei (W.R. Van Hoevell) dalam dokumen-dokumen tertulisnya. Jika Ejaan Lama (Van Ophuijsen) yang merujuk pada sistem penulisan masa kolonial Hindia-Belanda dirubah ke dalam bentuk Ejaan Republik (Soewandi) dan kemudian Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) sebagaimana yang digunakan pada saat ini, maka bentuk perubahannya akan terlihat sebagai berikut: Badoewi akan menjadi Baduwi, Badoej akan menjadi Baduy, dan Badoei akan menjadi Badui. Adapun istilah Baduwi, Baduy, dan Badui itu sendiri sekedar merupakan variasi bunyi dari maksud kata yang sama.

Kuat kemungkinan bahwa kata Baduwi, Baduy, dan Badui yang digunakan dalam bahasa Belanda sesungguhnya berasal dari kata berbahasa Arab, yakni Badwi (bentuk kata jamak) dimana bentuk kata tunggalnya adalah Badawi. Kata Arab Badwi tersebut apabila ditransliterasikan ke dalam ejaan bahasa Indonesia secara utuh memang variasinya akan berbunyi menjadi Badwi; Baduwi, Badui, dan Baduy. Dengan demikian, dapat terlihat bahwa pola dasar pengucapan kata Arab (Badwi) dalam bahasa Belanda, bahasa Indonesia, dan termasuk dalam hal ini dalam bahasa Sunda dapat diduga memiliki asal-usul yang sama, yakni kata Arab (Badwi). Pertanyaannya adalah apakah komunitas keilmuan Belanda menggunakan kata Baduwi, Baduy, dan Badui tersebut dikarenakan mengikuti pola identifikasi masyarakat sekitar masyarakat adat itu sendiri (dalam hal ini masyarakat Sunda atau masyarakat regional Banten) ataukah dikarenakan suatu inisiatif yang mereka ambil berdasarkan atas suatu gagasan dan identifikasi tertentu.

Satu hal yang pasti, bahwa dalam bahasa Arab (Badwi) artinya orang yang mendiami gurun. Sementara lawan kata Badwi, dalam bahasa Arab itu sendiri biasa disebut dengan kata Hadhari yang artinya orang yang menetap atau dalam makna perluasannya menjadi orang yang tinggal di wilayah perkotaan. Dengan kata lain, Badwi juga mengesankan dalam makna perluasannya sebagai orang yang belum menetap atau orang yang tinggal di wilayah pelosok atau pedesaan. Selain itu, dalam bahasa Arab, terdapat juga bentukan kata lainnya yang senada yakni bidayah yang berarti permulaan, asli, atau yang sejati. Sehingga, aspek penamaan masyarakat adat Sunda Wiwitan yang mendiami Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Provinsi Banten dengan nama Sunda (Baduy), kemungkinan besar dikarenakan keterhubungannya dengan imajinasi konseptual demikian.

Pertama, bahwa masyarakat adat Sunda Wiwitan dianggap masih meninggalkan ciri-ciri gaya hidup berpindah-pindah (nomad) atau telah menetap namun jauh di daerah pedalaman sebagaimana yang terjadi pada masyarakat adat Arab Gurun (Arab Badwi). Dan kedua, bahwa masyarakat adat Sunda Wiwitan tersebut dianggap mewakili gagasan dan identifikasi sebagai perwujudan orang-orang yang layak disebut penduduk permulaan, asli, atau yang sejati (indigenous people) sebagaimana orang-orang Arab Gurun dibandingkan dengan orang-orang Arab Perkotaan yang dianggap memiliki asal-usul sebagai pendatang atau suatu masyarakat Arab percampuran, yakni masyarakat luar yang karena suatu sebab menjadi terarabkan (Arab Mustaribah).

***

Meskipun penggunaan istilah Baduy terhadap masyarakat adat Sunda Wiwitan tersebut sesungguhnya terlihat tidak memiliki tendensi negatif tertentu, melainkan hanya sebagai suatu upaya klasifikasi dan identifikasi belaka, namun demikian masyarakat adat Sunda Wiwitan itu lebih merasa senang dengan menyebut dirinya sendiri dengan sebutan urang Sunda (orang Sunda) atau lebih khusus lagi sebagai urang Sunda Wiwitan (orang Sunda Wiwitan). Dengan menyebut dirinya sebagai urang Sunda artinya mereka mengidentifikasi komunitas dirinya secara primordial kesukuan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keluarga besar etnik masyarakat Sunda itu sendiri. Yakni suatu identitas masyarakat yang menggunakan bahasa Sunda, memiliki sistem kebudayaan Sunda, dan mendiami wilayah ulayat luas di bagian Barat wilayah Pulau Jawa yang secara administratif kini menempati wilayah Provinsi Jawa Tengah (bagian Barat), Provinsi Jawa Barat, Provinsi Banten, dan DKI Jakarta (secara de Jure)—secara de facto menjadi wakaf pergaulan nasional dan internasional bersama layer dasar kebudayaan Melayu Betawinya yang telah lama terintegrasi.

Sementara itu dengan menyebut dirinya sebagai urang Sunda Wiwitan, dengan demikian mereka memberikan batasan khusus dalam klaim identifikasi dirinya jika mereka adalah orang Sunda yang sesungguhnya, yang permulaan, dan dengan demikian yang memiliki kesejatiannya (bukan orang Sunda pada umumnya). Soal kesejatian ini biasanya dibuktikan dengan sistem keyakinan tersendiri dimana mereka bersikukuh untuk tidak menganut sistem keyakinan Islam sebagaimana sistem keyakinan masyarakat Sunda pada umumnya. Jika Islam dianggap sebagai sistem keyakinan yang datang dari luar wilayah ulayat masyarakat Sunda, maka Sunda Wiwitan menjadi istilah yang juga digunakan untuk mengidentifikasi sistem keyakinan leluhur masyarakat Sunda yang telah dianutnya sejak permulaan mereka ada.

Dalam makna perluasannya, Sunda Wiwitan ini juga bukan saja menolak secara halus terhadap sistem keyakinan Islam, melainkan juga dengan seluruh sistem keyakinan yang ada termasuk Hindu dan Budha yang sejak dahulu kala telah secara matang telah dianut dan diyakini masyarakat Nusantara pada umunya (termasuk dalam hal ini masyarakat Sunda). Wiwitan itu sendiri dalam bahasa Sunda memang berarti Yang Permulaan. Selain disebut Sunda Wiwitan, penamaan sistem keyakinan adat tersebut biasa juga dinamani dengan Jati Sunda yang berarti kurang lebih sama, yakni identitas Keaslian Sunda. Meskipun istilah Sunda itu sendiri secara teknis dapat ditelusuri pada pembentukan identitas administrasi politik berupa ibukota Kerajaan Tarumanagara yang bernama Sundapura (Kota Sunda) yang telah kental dengan penetrasi bahasa dan kebudayaan India Kuno, Sanskrit yang bersifat Indo-Eropa (Indo-Arya).

Meskipun seiring waktu telah terlihat beberapa elemen konseptual dari sistem keyakinan Hindu, Budha, dan Islam dalam sistem keyakinan Sunda Wiwitan, namun demikian klaim dirinya sebagai yang masih bersifat murni dan asli yang telah berhasil mempertahankan vitalitasnya melalui laju perubahan setiap zaman bersama suguhan trendnya dengan demikian klaimnya masih kuat untuk dapat dibenarkan. Sementara itu, meskipun pada masa kolonial Belanda sistem keyakinan Judeo-Christian juga sempat masuk ke wilayah Nusantara, namun demikian pengaruhnya sama-sekali bisa dikatakan tidak ada sehingga sama sekali tidak menyumbangkan elemen konseptual sedikitpun dalam bangun keyakinan masyarakat Sunda Wiwitan.

Dampak positif dari sikap konservatif dan puritan demikian, alih-alih disebut sebagai suatu bentuk ketertinggalan, justru sebaliknya mereka adalah masyarakat yang mampu menyuguhkan puncak-puncak pencapaian kebudayaan dan peradaban yang harmoni dan selaras dengan ritme hukum alam yang telah mereka capai dan masih dapat kita saksikan hingga saat ini. Di tengah gempuran sistem kebudayaan dan peradaban tunggal Dunia (Globalisasi) yang terkadang menyibakkan rasa sesak dan kekosongan soal akar dan asal-usul, kebijaksanaan tatanan lokal yang disuguhkan masyarakat Baduy dapat menimbulkan citarasa kemanusiaan melalui masa lalunya yang terawetkan dan pola hidup yang tetap bersahaja.

***

Dengan mempertimbangkan sudut pandang dan perasaan dirinya sendiri, dugaan dan spekulasi ilmiah yang bersifat sepihak sebagai sudut pandang orang luar sepertinya mesti diletakkan secara lebih matang dan berjarak. Misalnya saja orang Baduy sendiri menyangkal keterhubungannya dengan pendekatan dan teori asal-usul mengenai dirinya sebagai orang-orang pelarian dari ibukota Pakuan dari Kerajaan Pajajaran (saat ini Bogor) yang terdokumentasikan pada karya tulis Pleyte (1812). Demikian juga dengan pendekatan dan teori asal-usul mengenai dirinya sebagai orang-orang pelarian dari wilayah Kadipaten Wahanten Girang (saat ini Serang) sebagai wilayah bawahan Kerajaan Pajajaran  yang terdokumentasikan pada karya tulis Jacob dan Meijer (1891). Dan juga dengan pendekatan dan teori campuran antara keduanya sebagaimana yang terdokumentasikan pada karya tulis Kruseman dan Pennings (1902). Dengan kata lain, mereka menyangkal kedudukan dirinya sebagai orang-orang pelarian yang kemudian menyingkir dan membabak suatu perkampungan baru yang terisolir dari wilayah asal yang telah ditaklukan. Mereka menganggap, bahwa dirinya telah mendiami kawasan tersebut sejak masa leluhurnya mulai ada.

Baik pendekatan dan teori sebagai orang-orang pelarian dari ibukota Pakuan Kerajaan Pajajaran dan juga dari Kadipaten Wahanten Girang Kerajaan Pajajaran, adalah keduanya berkaitan dengan rangkaian keruntuhan sistem tatanegara Kerajaan Pajajaran yang secara umum dianggap bercorak Hindu-Budha fase akhir oleh Kesultanan Banten sebagai sistem tatanegara yang telah memasuki fase awal Islam secara struktural. Adapun pembacaan terhadap situasi sejarah demikian, juga harus dilakukan dengan perasaan yang berjarak dan berkepala dingin agar mampu melihat kenyataan secara apa adanya, jernih dan jelas tanpa bias dan sentimentil (karena Islam biasa secara terang-terangan atau diam-diam ditempatkan sebagai kekuatan agresor yang menghancurkan).

Meskipun Baduy berada dalam lintasan ruang dan waktu sejarah yang bersamaan, namun demikian terlihat jika masyarakat Baduy tidak ingin diletakkan dalam konteks dan konstelasi geo-politik dan ideologis demikian. Baduy adalah komunitas yang secara psiko-sosial merasa berada di luar arena permainan demikian. Baduy adalah orang-orang yang merasa tumbuh dan berkembang melalui fase-fase kebudayaan dan peradabannya tersendiri yang linear dan berakar diatas daya cipta dan kepribadian leluhurnya yang terikat kuat dengan tanah-airnya sejak semula. Mereka juga mampu melihat, memahami, menghormati, dan mengakui supremasi kekuatan masyarakat di luar dirinya tanpa ingin kehilangan jati dirinya sebagaimana biasa dibuktikan dengan prosesi Seba berupa persembahan panen tahunan kepada penguasa resmi pemerintahan disetiap zaman yang pernah dilaluinya. Dan sebagai orang luar, persepsi demikian perlu dihargai dan wilayah-wilayah irisan sebagai sebagai sesama bagian dari keluarga dan juga komunitas yang gemar dan ingin saling belajar dapat diketengahkan dengan jauh lebih baik lagi. (Gelar Taufiq Kusumawardhana)